Dalam rangka penelitian perilaku seks, seorang peneliti mewawancarai seorang pilot. “Dapatkah anda ceritakan kapan terakhir kali anda melakukan hubungan sex?” tanya Peneliti.
“Sembilan belas lima puluh sembilan,” jawab Pilot.
Dengan reputasi pilot yang sering terdengar memiliki banyak pasangan, Peneliti kaget dengan jawaban seperti itu.
“Waktu yang lama sekali!” hardik Peneliti.
“Ya mungkin juga, …” jawab Pilot sambil melihat jamnya “Tapi sekarang baru duapuluh satu lima belas.”
Nama Karyawan: Penis.
Perihal: Minta naik gaji.
Bersama dengan ini, saya “Penis” ingin meminta kenaikan gaji dikarenakan alasan-alasan berikut:
- saya melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan fisik.
- saya bekerja di suatu kedalaman tertentu.
- saya bekerja dengan menggunakan kepala terlebih dahulu.
- saya bekerja ditempat yang lembab.
- saya bekerja lembur dengan tanpa biaya tambahan.
- saya bekerja di ruang yg gelap yg tdk mempunyai aliran udara segar.
- saya bekerja di temperatur yang tinggi.
- pekerjaan saya beresiko tertular oleh penyakit.
Tanggapan dari HRD:
Setelah mempertimbangkan permintaan dan argumen yang diberikan, kami menolaknya dengan alasan-alasan berikut:
- anda tidak bekerja 8 jam penuh.
- anda tertidur setelah melakukan tugas yang waktunya sebentar.
- anda tidak selalu menurut perintah dari manajemen.
- anda tidak selalu berada di posisi yang telah ditentukan, bahkan sering pergi ketempat lain.
- anda terlalu banyak mengambil istirahat yang tidak resmi.
- anda tidak mempunyai inisiatif, selalu harus ditekan dan dirangsang untuk dapat memulai bekerja.
- anda meninggalkan tempat kerja anda dengan berantakan terkadang anda mengabaikan peringatan kesehatan dengan tidak menggunakan pakaian pelindung yang semestinya.
- anda tidak pernah menunggu usia pensiun sebelum berhenti bekerja.
- anda tidak suka bekerja dalam dua shift.
- anda kadang meninggalkan tempat kerja anda sblm kerjaan selesai.
- dan yang terpenting adalah anda selalu memasuki dan meninggalkan tempat kerja dengan membawa dua buah bungkusan yang bentuknya mencurigakan.
Ada dua anak kembar namanya Tono dan Tino. Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kok kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu. Kata wanita itu kepada Tono,
“Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih.”
Nah si Tono mengira bahwa wanita itu berbicara tentang perahu dayungnya itu, menjawab “Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnyapun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan. Saya kira yang mengakhirinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya. Mereka berempat mencoba masuk ke dalam bersamaan dan akhirnya dia terbelah persis di tengah- tengah.”
Wanita tua itupun pingsan…
Pengalaman Wardoyo sewaktu SMP. Pada waktu itu, seorang pelajar SMP bernama Wardoyo sedang jatuh cinta kepada temannya yang bernama Warni. Karena Wardoyo ini orangnya penakut dan kurang PD, jadi dia nggak berani menyatakan cintanya ke Warni. Setelah selama sebulan berpikir gimana caranya dapetin Warni akhirnya Wardoyo memutuskan untuk memberikan sebuah hadiah kepada Warni. Setelah berpikir panjang, Wardoyo memutuskan untuk memberikan hadiah topi kepada Warni. Untuk menjalankan niatnya, Wardoyo pergi ke Ramayana dept. store. Setelah mendapatkan topi pilihannya, Wardoyo bergegas untuk membayar ke kasir. Karena suasana di Ramayana dept. store waktu itu lagi ramai (pas lagi ada discount) jadi kasir yg biasa membungkus barang-barang agak sedikit kerepotan, akibatnya bungkusan topi yang dibeli Wardoyo itu tertukar dengan bungkusan yang dibeli wanita disamping Wardoyo. Ternyata wanita disampingnya Wardoyo itu membeli celana dalam. Karena udah nggak sabar untuk memberikan hadiah ke Warni, tanpa memeriksa isi bungkusan itu lagi Wardoyo langsung memberi pesan di bungkusannya yang berbunyi :
Warni, saya sengaja memberikan hadiah ini ke kamu karena saya tahu kalau kamu jarang memakai ini sewaktu bepergian. Saya sengaja pilih yang warna merah karena saya pernah melihat kamu pakai yang warna biru. Saya yakin sekali ukurannya pas untuk kamu, karena sebelum membeli saya sudah mencobanya dan ukuran kita kan sama. Rasanya saya ingin sekali memakaikan ini ke kamu untuk yang pertama kalinya. Warni, kalau kamu senang dengan hadiah ini, saya berharap kamu memakainya pada hari Jumat besok.
Temanmu,
Wardoyo.
NB:
Oya, model terakhir yang sering saya lihat di film dan majalah, memakainya agak sedikit diturunkan kebawah dengan sedikit rambut terlihat
Sepasang pengantin baru yang masih lugu kebingungan untuk melakukan hubungan sex pada malam pertama mereka.
“Apakah kau tahu apa yang harus kita lakukan” tanya sang istri.
“Wah, aku pun tidak mengerti sayang” jawab sang suami. “Tapi aku ada ide, mari kita ke bar yang banyak pelautnya. Semua orang tahu bahwa pelaut ahli dalam hal sex. Mari kita minta salah satu pelaut mengajari kita”.
Singkat cerita mereka pergi ke bar dan menemukan seorang pelaut yang bersedia memberikan “pelajaran”.
“Baiklah, mari kita ke kamar di atas untuk mengajari kalian apa yang harus dilakukan” jawab sang pelaut dengan senang hati. Di dalam kamar, sang pelaut menggambar sebuah lingkaran dilantai dan berkata pada sang suami “Kamu harus berdiri dalam lingkaran dan tidak boleh keluar walau apapun yang terjadi”
Singkat cerita, sang pelaut melakukan kewajiban sang suami terhadap sang istri. Setelah selesai, dia mendapati sang suami sedang terkikik-kikik sendiri di dalam lingkaran.
“Hei bung, kenapa kau tertawa?” tanya sang pelaut.
“Aku sudah keluar lingkaran dua kali, tapi kau tidak memperhatikan…”



